Cerita Fiksi Anak dari 5 dari Daerah Pantura Timur Jawa Tengah
Kura-kura dan Burung
Sombong di Rawa Demak
Oleh: Kelompok Demak
(Fabel)
Di sebuah wilayah di kota Demak terdapat rawa dengan berbagai macam
binatang hidup disekitaran rawa. Di tepi rawa hiduplah kura-kura kecil , ia
adalah seekor kura- kura yang pandai, rajin, dan cerdas. Tapi ia terkenal
sangat lambat namun ia tetap selalu sabar. Setiap pagi kura-kura selalu
berjalan lambat di tepi rawa sambal mencari makanan sekedar buah atau sayuran
yang tumbuh di tepi rawa.
Akan Tetapi kura-kura
ini terkenal sangat lelet , dia tidak suka ikut campur dengan urusan lain.
Setiap pagi kura-kura mencari makanan di tepi rawa, biasanya mendapat makanan
berupa buah-buahan begitu juga dengan sayuran.
Di suatu pagi,
kura-kura kembali mencari makanan di tepi rawa. Saat dia ingin mengambil buah,
datanglah seekor burung kecil yang bersorak, “Ini makananku, bukan makananmu!
Siapa cepat dia yang dapat!” Kura-kura terdiam sejenak. dia tidak marah, hanya
berkata dengan tenang, “Baiklah, kalau begitu kita bagi saja agar sama-sama
kenyang.”
Namun burung kecil
itu menolak. dia dengan cepat memakan buah-buah yang sudah ada, hingga pada
akhirnya dia kekenyangan dan tidak bisa terbang jauh. Tidak lama kemudian,
angin kencang datang dan membuat burung kecil itu kesulitan bergerak dam
terbang .
Melihat hal itu,
kura-kura pun mendekat dan berkata, “Kamu tidak apa-apa? Sini Peganglah
punggungku, aku akan membawamu ke tempat yang aman.” Burung kecil itu merasa
malu karena sebelumnya bersikap angkuh dan sombong.
“Maafkan aku, kura-kura. Aku terlalu
serakah tadi,” ucapnya.
Kura-kura pun tersenyum, “ gapapa
santai saja . Lain kali kita bisa berbagi, agar semua
merasa cukup.”
Sejak kejadian itu, burung kecil Kembali mengejak kura-kura saat bertemu
di tepi rawa dengan celetukan: ” ha... ha... haaa, lambat sekali kau kura-kura”
ujar burung sambal tertawa. Kura- kura hanya tersenyum sambil ingin mengambil
buah- buahan yang lain. Lagi dan lagi burung selalu mengambil dahulu. Karena
itu buah terakhir yang dekat dengan tempatnya , kura-kura pun mencoba meminta
buah tersebut. ” burung, apakah aku boleh meminta 1 buahmu? Kamu dari tadi
sudah mengambil semua buah yang aku mau ambil sedangkan, buah yg lain sangat
jauh di seberang sana” sang burung menjawab ” makanya kalau mau ambil buah yang
cepet dikit, dasar lambat” sambal memberi 1 buah yang di ambilnya burung
berkata ” eitss.. dengan syarat, kamu sesudah menerima buah dari ku kamu ku
tantang untuk lomba mengelilingi rawa besok pagi”.
Kura-kura mengangguk
dan mensetujuhi tantangan si burung. Dan lagi sang burung mengejek dan
menyepelekan kura-kura dengan berkata ” ah.. sangat percaya diri sekali kamu,
emang kamu yang lambat ini bisa mengalahkan kecepatan ku, sementara aku lah
hewan yang paling cepat di rawa ini” sang kura-kura menjawab ” setiap ada
kekurangan pasti ada kelebihan”
Hari perlombaan telah tiba, lomba diadakan si burung dengan menghadirkan
beberapa hewan yang lain salah satunya bangau yang menjadi juri perlombaan dan
sang burung banyak mengundang hewan lain dengan tujuan dia bisa pamer ke hewan
lain karena bisa menang dalam perlombaan ini.
Pada garis start dalam hitungan ke tiga sang burung mengepak kan sayapnya
dengan cepat meninggalkan kura-kura yang baru selangkah maju dari garis start
tersebut. Namun sang burung terlalu yakin dan sombong akan menang serta
menyepelekan kura-kura, sang burung berhenti sejenak untuk makan buah . Tak
disangka ia terlalu banyak makan buah sehingga kekeknyangan dan tertidur pulas.
Melihat burung tertidur pulas sang kura- kura pun dengan semangat dan
kepercayaan dirinya, ia berusaha cepat sampai gari finish. Saat sang kura-kura
kurang dua Langkah menginjak garis finish, sang burung terbangun dan melihat
kura-kura hampir sampai
garis finish, ia langsung mengepak kan
sayapnya secepat- cepatnya. Namun sang burung sudah terlambat , keputusan juri
mengumumkan bahwa sang kura- kura lah yang menjadi juara.
Hewan – hewan bersorak gembira atas juara nya sang kura-kura sedangkan,
sang burung di pojok merasa tidak terima atas kekalahannya melawan kura-kura.
Lalu salah satu hewan berkata ke pada sang burung ” itu akibat dari kamu suka
menyepelekan hewan lain dan bersikap sombong ” . Sang burung merasa bersalah
dengan perilakunya selama ini. Sang kura-kura mendatangi burung dengan membawa
kalung juara. ” kau tetap jadi yang tercepat” ucap kura-kura sambil
mengalungkan kalung juara ke leher burung. Dengan rasa malu dan bersalah burung
meminta maaf kepada kura-kura dan hewan yang lain atas kesombongan dirinya
selama ini. Kura-kura dan hewan lain pun memaafkan sang burung.
Sesudah bermaafan burung mengambilkan buah-buahan untuk diberikan kepada
sang kura-kura untuk di makan bersama. Lalu mereka berteman baik selamanya.
Pesan Moral dari
fabel diatas yaitu Kesombongan dapat menyebabkan
kegagalan, sedangkan ketekunan dan konsistensi dapat membawa keberhasilan,
serta biasakan berbagi dengan orang lain.
Mitos Belalang Emas dari Gong Dewi Nawang Wulan
Oleh: Kelompok Grobogan (Mitos)
Di siang hari yang cerah pada bulan
Sapar, Desa Katekan terasa sangat ramai karena semua warga berkumpul untuk
menyaksikan tradisi memandikan Bende, yaitu gong kecil sakti peninggalan
Dewi Nawang Wulan. Ghani, Nawa, dan Tora berdiri di barisan paling depan sambil
menahan napas saat pusaka itu perlahan dibersihkan dengan air bunga yang harum.
Suasana yang tadinya tenang tiba-tiba berubah menjadi tegang ketika air
terakhir disiramkan, karena semua orang sedang menunggu tanda apa yang akan
keluar dari dalam gong kecil itu untuk menentukan nasib panen mereka tahun ini.
Tiba-tiba terdengar bunyi halus dari
dalam Bende, seperti gesekan kecil yang membuat warga semakin tegang, lalu dari
celahnya perlahan muncul seekor belalang berwarna emas yang berkilau terkena
cahaya matahari, membuat semua orang terdiam dan saling berpandangan, sementara
Ghani, Nawa, dan Tora memperhatikan dengan rasa penasaran karena mereka tahu
kemunculan belalang itu bukan sekadar kejadian biasa, melainkan sebuah tanda
yang dipercaya membawa pesan tentang apa yang akan terjadi pada panen tahun
ini, namun belum ada yang bisa memastikan apakah pertanda itu akan membawa
kabar baik atau justru sebaliknya.
Belalang emas itu tetap diam sejenak,
lalu perlahan bergerak menyusuri permukaan Bende seolah sedang mencari jalan
keluar, membuat seluruh warga menahan napas dan mengikuti setiap gerakannya
dengan penuh harap dan cemas, sementara Ghani tanpa sadar melangkah sedikit
lebih maju karena merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari cara belalang itu
bergerak, Nawa menggenggam lengan Tora dengan erat, dan tepat ketika belalang
itu membuka sayapnya seperti hendak terbang, angin tiba-tiba berhembus cukup
kencang hingga membuat bunga-bunga di sekitar beterbangan dan suasana menjadi
semakin tegang, seolah-olah alam ikut memberi tanda bahwa sesuatu yang lebih
besar akan segera terjadi.
Tepat saat angin mereda, belalang emas
itu tidak terbang menjauh, melainkan melompat kecil dan hinggap tepat di bahu
Ghani, memancarkan kilau yang semakin terang hingga membuat warga sontak
bersorak penuh kegembiraan. Sesepuh desa yang memimpin upacara segera bersujud
syukur sambil menyerukan bahwa posisi hinggapnya belalang tersebut adalah
simbol kesuburan luar biasa yang akan menyatukan seluruh warga. Ghani merasa
dadanya bergetar hebat saat belalang itu kembali mengepakkan sayapnya,
meninggalkan serbuk keemasan yang halus di pakaiannya sebelum akhirnya melesat
tinggi menuju arah persawahan, meninggalkan keyakinan di hati semua orang bahwa
musim panen kali ini bukan hanya akan berlimpah, tetapi juga membawa berkah kedamaian
bagi Desa Katekan.
Mbah Wiryo, sang sesepuh desa,
melangkah perlahan mendekati Ghani sembari mengusap sisa serbuk keemasan di
bahu pemuda itu dengan ujung kain jariknya, sebuah tindakan simbolis yang
menandakan bahwa tugas alam telah berpindah ke tangan manusia. Secara faktual
dalam tradisi Jawa, munculnya hewan dari benda pusaka saat ritual Jamasan
(pensucian) di bulan Sapar dianggap sebagai "wahyu" atau petunjuk
sasmita alam yang tidak boleh diabaikan. Bagi warga Katekan, hinggapnya
belalang di bahu Ghani bukan sekadar keberuntungan, melainkan perintah bagi
para pemuda untuk memimpin Sambatan atau gotong royong memperbaiki
saluran irigasi yang selama ini terbengkalai. Keyakinan kolektif ini seketika
mengubah ketegangan menjadi luapan energi positif; warga tidak lagi menunggu
keajaiban jatuh dari langit, melainkan mulai bergerak serentak ke sawah dengan
keyakinan bahwa alam telah merestui setiap butir keringat yang akan mereka
teteskan untuk panen raya mendatang.
Hari-hari berlalu dengan cepat, dan
musim panen pun tiba. Seperti yang diharapkan, hasil panen tahun itu sangat
melimpah, bahkan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Warga desa merasa
bersyukur dan kembali mengadakan syukuran sederhana sebagai bentuk terima kasih
kepada Tuhan dan leluhur mereka. Dalam acara tersebut, sesepuh desa kembali
mengingatkan agar tradisi memandikan Bende tetap dilestarikan, karena bukan
hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai pengingat untuk selalu hidup
selaras dengan alam.
Sejak saat itu, cerita tentang belalang
emas menjadi legenda yang terus diceritakan dari generasi ke generasi di Desa
Katekan. Anak-anak desa tumbuh dengan kisah tersebut, belajar bahwa setiap
tanda dari alam memiliki makna yang dalam. Ghani, Nawa, dan Tora pun sering
mengenang kejadian itu sebagai pengalaman yang mengubah cara pandang mereka
terhadap kehidupan. Bagi mereka, belalang emas bukan sekadar makhluk biasa,
melainkan simbol harapan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa keajaiban akan
selalu hadir bagi mereka yang menjaga tradisi dan menghormati alam.
Legenda Asal Usul Desa Welahan (Versi Cerita Anak)
Oleh: Kelompok Jepara (Legenda)
Dahulu kala, di daerah yang sekarang
dikenal sebagai Jepara, ada sebuah tempat yang belum seperti sekarang. Konon,
wilayah itu dulu masih berupa lautan luas. Banyak kapal dari berbagai negara
berlayar di sana, termasuk dari negeri China.
Pada suatu hari, datanglah seorang
pedagang dari China bernama Sam Poo Kong. Ia berlayar dengan kapalnya sambil
membawa berbagai barang dagangan, seperti rempah-rempah yang harum.
Dalam perjalanan, Sam Poo Kong ingin mampir untuk bertemu seorang ulama
yaitu Sunan Muria. Tujuannya ingin bersilaturahmi dan berbagi cerita. Mereka
pun bertemu dan berbincang-bincang. Namun, Sam Poo Kong mengucapkan kata-kata
yang kurang sopan. Hal itu membuat Sunan Muria merasa tidak nyaman dan
tersinggung. Karena merasa sedih dan marah, Sunan Muria berkata bahwa
perjalanan pulang pedagang itu tidak sampai tujuan. Akhirnya, Sam Poo Kong
kembali berlayar. Tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba datang badai besar!
Ombak tinggi menghantam kapal mereka.
Kapal pun rusak dan barang-barang di dalamnya tercecer ke berbagai tempat.
Jangkar kapal terdampar di daerah Rembang,
layarnya jatuh di daerah Keling, dan dayung kapal—yang disebut “welah”—terdampar
di suatu tempat. Setelah kejadian itu, wilayah yang tadinya lautan perlahan
berubah menjadi daratan. Banyak orang mulai tinggal di sana, termasuk warga
dari China.
Suatu hari, saat warga menggali sumur,
mereka menemukan sebuah dayung kapal (welah) di dalam tanah. Karena penemuan
itu sangat unik, daerah tersebut akhirnya dinamakan Desa Welahan,
berasal dari kata welah. Seiring waktu, tempat itu menjadi ramai. Banyak
orang berdagang di sana hingga terbentuk pasar. Bahkan, ada tempat yang
dianggap bersejarah dan sering dikunjungi orang. Konon, sumur tempat
ditemukannya welah itu memiliki air yang jernih dan tidak pernah kering,
meskipun musim kemarau panjang. Ada juga yang percaya bahwa airnya membawa
manfaat. ingga sekarang, cerita ini tetap dikenang oleh masyarakat sebagai
asal-usul nama Desa Welahan.
Tamat (the end)
Dongeng Menara Ajaib di Kota Kudus
Oleh: Kelompok Kudus (Dongeng)
Dahulu kala, di tanah Jawa, hiduplah
seorang ulama yang sangat baik dan bijaksana.
Namanya Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu dari Wali Songo, yaitu sembilan
orang
hebat yang menyebarkan agama Islam dengan cara yang lembut dan penuh cinta.
Sunan Kudus tidak suka marah-marah.
Beliau juga tidak suka merusak budaya orang lain. Sebaliknya, beliau suka
berbagi kebaikan dengan cara yang membuat orang senang.
Suatu hari, Sunan Kudus sampai di
sebuah desa bernama Sunggingan (sekarang namanya Kota Kudus). Di sana, beliau
melihat sebuah gerbang tua peninggalan kerajaan dulu. Lalu, beliau mengikat
seekor sapi yang gemuk dan baik hati di dekat gerbang itu. Sunan Kudus lalu
berkhotbah dengan suara lembut:
"Wahai teman-teman, lihatlah sapi
ini. Sapi sangat membantu kita. Bajak sawah? Sapi yang menarik. Bawa barang
berat? Sapi yang membantu. Susunya juga sehat dan enak. Jadi,
mari kita sayangi sapi. Jangan menyembelihnya, ya!"
Mendengar kata-kata yang baik itu,
penduduk desa pun tersentuh. Mereka jadi sayang
sama sapi. Perlahan-lahan, banyak yang tertarik masuk Islam. Bahkan ada seorang
saudagar dari Tiongkok yang ikut masuk Islam dan berganti nama menjadi Kiai
Telingsing.
Sunan Kudus lalu memberi nama baru desa
itu: KUDUS. Nama itu diambil dari kota suci Al-Quds (Yerusalem). Indah, kan?
Menara Tanpa Semen, Ajaib!
Setelah itu, Sunan Kudus ingin
membangun masjid dan menara. Tapi.. beda dari bangunan biasa ya, adik-adik.
Cara membuatnya sangat ajaib!
Sunan Kudus menyusun bata merah satu
per satu. Biasa kalau bikin rumah pakai semen, kan? Tapi Sunan Kudus tidak
pakai semen sama sekali! Beliau hanya menggosok-gosokkan bata satu dengan bata
lain... "Gosok... gosok..." dan tiba-tiba... plok! Mereka menempel
kuat!
Ajaib, bukan? Hingga sekarang, menara
itu tetap kokoh meski sudah tua.
Bentuk menaranya juga unik. Tidak seperti
menara masjid biasa, tapi mirip candi zaman dahulu. Tingginya kira-kira
setinggi 5 atau 6 mobil ditumpuk ke atas (sekitar 17 meter). Atapnya dari kayu
jati yang kuat, dan di puncaknya ada kubah kecil yang lucu.
Dulu, menara ini dipakai untuk mengumandangkan
azan, adzan, dari atas sana, suaranya terdengar sampai ke seluruh penjuru kota.
Allahu Akbar... merdu sekali!
Legenda Sumber Air Kehidupan
Di balik menara itu, ada sumur tua yang
bernama Sumber Banyu Panguripan. Artinya "Air Kehidupan". Konon,
airnya sangat istimewa. Tapi dulu air itu sering membuat orang berebut dan
bertengkar.
Sunan Kudus pun berpikir, "Wah,
jangan sampai air yang baik malah bikin orang jahat. Lebih baik aku tutup
sumbernya dan di atasnya kubah masjid dan menara." Maka beliau mendirikan
menara tepat di atas sumber itu. Kini, air itu tersimpan aman, dan orang-orang
tidak bertengkar lagi. Bagus, kan?
Pintu Rahasia untuk Orang Sombong
Adik-adik, ada satu pintu di Menara
Kudus yang istimewa sekali. Namanya pintu Kalacakra. Pintu itu biasa saja, tapi
dipercaya punya kekuatan ajaib. Ceritanya, dulu ada dua pangeran yang
bertengkar berebut takhta kerajaan. Sunan Kudus tidak suka melihat orang
sombong dan suka bertengkar. Maka beliau memasang tulisan rahasia di pintu itu.
Isinya (kira-kira): "Hai siapa pun yang melewati pintu ini dengan hati sombong
dan jahat, maka kekuasaannya akan luruh." Hingga sekarang, banyak pejabat
yang sengaja tidak lewat pintu itu karena takut. Mereka masuk dari pintu
samping. Hihihi... lucu, ya? Jadi, pintu itu mengajarkan kita untuk rendah hati
dan tidak sombong.
Kenapa Orang Kudus Tidak Sembelih Sapi?
Sampai sekarang, kalau adik-adik pergi
ke Kota Kudus, jangan heran jika tidak ada orang yang menyembelih sapi di sana.
Walaupun mereka makan daging sapi (dibeli dari daerah lain), mereka pantang
menyembelih sapi sendiri.
Kenapa? Karena Sunan Kudus berpesan:
"Sapi itu sahabat kita. Dia
membantu petani membajak sawah. Dia menarik gerobak.
Susunya menyehatkan. Sayangi sapi,
jangan dibunuh."
Nah, peraturan itu masih dipegang teguh sampai sekarang. Mereka bahkan
merayakan hari raya kurban dengan menyembelih kambing atau kerbau, bukan sapi
Pelajaran dari Menara Kudus
Nah, adik-adik, itulah dongeng Menara Ajaib di Kota Kudus. Dari cerita
ini kita bisa belajar:
1.
Kebaikan itu menular – Sunan Kudus
menyebarkan Islam dengan lembut, dan
orang-orang jadi senang.
2.
Kerja keras dan kesabaran bisa membuat
keajaiban – Menara tanpa semen saja bisa kokoh!
3.
Jangan sombong- Pintu Kalacakra
mengingatkan kita untuk rendah hati
4.
Sayangi hewan - Sapi adalah teman,
bukan musuh.
Pesan dari kakak
Suatu hari nanti, kalau adik-adik jalan-jalan ke Kudus (Jawa
Tengah), jangan lupa lihat
Menara Kudus. Itu lho, bangunan bata merah
yang unik. Coba perhatikan pintu
gerbangnya... siapa tahu ada kekuatan
ajaibnya masih tersisa. Tapi yang pasti, keajaiban
terbesar dari menara itu adalah kebaikan
hati Sunan Kudus yang masih dikenang sampai
Kok
Ki Dalang Sapanyana
Oleh: Kelompok Pati (Cerita Rakyat)
Pada zaman dahulu kala, di daerah Pati
hiduplah seorang dalang hebat bernama Ki Dalang Sapanyana. Ia dikenal pandai
memainkan wayang dengan ciri khas wayangnya bisa bergerak sendiri dan musiknya
dapat berbunyi tanpa dipukul, hal itu yang menjadi keunikan pada dirinya. Pada
saat itu, belum ada Kabupaten Pati, melainkan hanya kerajaan kecil yang disebut
kadipaten, seperti Paranggaruda yang dipimpin oleh Adipati Yudapati dan
Carangsoka yang dipimpin oleh Adipati Puspa Andungjaya. Adipati Yudapati
memiliki putra bernama Menak Jasari yang memiliki tubuh kurang sempurna, tetapi
ia sangat disayang ayahnya dan diharapkan menjadi pemimpin di masa depan.
Adipati Puspa Andungjaya memiliki seorang putri bernama Dewi Rayungwulan.
Suatu hari, Adipati Yudapati mengirim
utusan untuk melamar Dewi Rayungwulan. Akan tetapi, Dewi Rayungwulan merasa
ragu, namun tidak berani secara langsung. Ia memberikan syarat, Menak Jasari
harus datang bersama Ki Dalang Sapanyana dan dua pesinden kembar. Syarat yang
diminta Dewi Rayungwulan disetujui dan dibawa ke Carangsoka. Pada saat acara
berlangsung tiba-tiba suasana menjadi gelap dan kacau. Dalam kekacauan itu, Dewi
Rayungwulan ternyata pergi bersama Ki Dalang Sapanyana karena ia menyukainya.
Pihak Paranggaruda sangat murka dan
kecewa lalu mereka segera mengejar Ki Dalang Sapanyana dan Dewi Rayungwulan
sehingga peperangan terjadi di berbagai tempat. Dalam pengejaran tersebut, Ki
Dalang Sapanyana selalu lolos dari penangkapan lawannya. Pada akhirnya, Ki
Dalang Sapanyana dan Dewi Rayungwulan menikah dan berhasil menjadi penguasa di
Carangsoka. Dalam keberhasilannya, ada peperangan yang harus ditebus yaitu
melawan Paranggaruda. Perang besar pun terjadi dan menimbulkan banyak korban di
kedua belah pihak. Kadipaten Paranggaruda kehilangan raja, patih, dan para
pendekar yang gugur di medan perang. Raden Menak Jasari akhirnya meninggal
ditangan Ki Dalang Sapanyana. Akhir dari kekalahan itu menjadikan Kadipaten
Paranggaruda jatuh pada kekuasaan Kadipaten Carangsoka.
Pesan Moral: Dari cerita tersebut dapat
diambil pelajaran, kita harus jujur, tidak memaksakan kehendak, dan saling
menghargai orang lain agar tidak terjadi pertengkaran.
Penulis Cerita Fiksi Anak:
- Kelompok Demak (Fabel)
1.
Niswatul Ulya (202433137)
2.
Farikhatus Saniyyah (202433163)
3.
Nikita Fulilis Setyaningsih (202433164)
4.
Laila Nabila (202433167)
5.
Alexandra Elvio Yoann F. (202433168)
6.
Shofia Mandekah Sari (202433169)
7.
Nehayatul Afdhila Rizqiya P. (202433172)
- Kelompok
Grobogan (Mitos)
1.
Devita Rahmatul Anisa
(202433132)
2.
Duta Risma Pradita
(202433147)
3.
Dina Novitasari
(202433148)
4.
Anggita Galih Nur Rahmawati (202433153)
5.
Fadiatus Sabila
(202433155)
6.
Dwi Sarifatul Amalia
(202433157)
7.
Khusnul Tifalia
(202433170)
·
Kelompok Jepara (Legenda)
1.
Hanif Miftakhul Fauzi (202443139)
2.
Diva Aulia Zahra (202433140)
3.
Dwi Amelia Noor (202433141)
4.
Mohammad Fahrul Ridwan (202433144)
5.
Meidheana Putri Fatikasari (202433145)
6.
Putri Nor Aini (202433154)
7.
Salsa Hikma Ramadanta (202433166)
· Kelompok Kudus (Dongeng)
1.
Fitri Wahyuningtiyas (202433134)
2.
Sabrina Putri Syahada (202433138)
3.
Muhammad Eko Apriliyanto (202433142)
4.
Amrina Kholilina Rosada (202433143)
5.
Diana Rahmadhani (202433146)
6.
Novia Rohman (202433150)
7.
Maulida Alif Nurul Zamzami (202433159)
· Kelompok Pati (Cerita Rakyat)
1.
Intan Wahyu Marrita Anggraini (202433133)
2.
Erna Ani Lestari (202433136)
3.
Anggi Dwi Aprianti (202433149)
4.
Reva Nabila Pramesti (202433158)
5.
Shafa Annawa Zahra Salsabila (202433162)
6.
Aramita Wahidatus Syifa (202433165)
7.
Siti Fatimatuzzahroh (202433171)
Komentar
Posting Komentar